Pengalaman Prakerin; Part 2


Kehidupan seperti dimensi ruang dan waktu, banyak ruangan dan banyak waktu yang bisa kita gunakan sesuai dengan takdir. Aku membenci pertemuan dan perpisahan, itu alasanku menjadi seorang introvert. Dalam kehidupan, aku hanya mengikuti alur waktu yang Tuhan telah atur dengan memasuki sebuah dimensi ruang.

Di dalam ruangan itu, kita akan bertemu dengan orang-orang baru. Baik tidaknya tergantung kita mengenal orang itu. Kita tidak bisa langsung mengatakan, bahwa semua orang jahat. Semuanya punya alasan tersendiri.

Hmm..

Di sini aku ingin menceritakan pengalamanku PKL part dua. Nggak terasa hari sudah semakin dekat untuk masuk sekolah lagi — masuk ke portal kehidupan nyata yang menurutku tidak menyenangkan.
Jika aku disuruh memilih sekolah atau kerja, aku akan memilih kerja. Kenapa? Bukannya capek ya? Ya sih, kerja lebih capek dibanding sekolah terus pekerjaan kantor juga selalu dikejar-kejar oleh waktu. Aku baru merasakan pekerjaan dikejar-kejar waktu di minggu ini — Rabu, 11 Juli 2018.

Pada hari itu, tugasku benar-benar numpuk ada 300 formulir costumer yang harus di-input. Kerja di bagian komputer terus menerus mata juga lelah, terus tangan juga lelah untuk ngetik terus apalagi kalau udah liat kode-kode yang membingungkan yang membuat doi nggak peka, eh! Apaan sih Lia, bahas doi kayak punya aja!!!

Tapi, kali ini aku nggak akan ngebahas pekerjaan aku yang banyak seperti itu. Aku akan membahas rasa syukurku, karena di tempat PKL ini aku menemukan orang-orang menyanyangi diriku.

“Aku berterima kasih kepada Tuhan, telah diberikan kakak pembina/pembimbing yang baik seperti kak Imelda. Begitu juga teman yang baik seperti Thesalonika (teman beda sekolah, tapi kompak). Mungkin, jika Tuhan tidak memberikan kalian berdiri di samping diriku, aku bukanlah siapa-siapa. Tidak terasa sebentar lagi kita akan berpisah, aku tidak tahu harus menyampaikan kata apalagi selain kata ‘terima kasih’.”

Sekarang yang kurasakan seperti dipaksa dorong keluar dari ruang waktu yang sudah membuat diriku nyaman. Diriku dengan tegas menolaknya, tetapi waktu membuat diriku tidak bisa memberontak, aku dipaksa keluar dari sana seiring berjalannya waktu.

Thesalonika Thalia, thanks untuk semuanya..

Senang bisa mengenal anda, ya walaupun hanya dua bulan. Jika terowongan masa lalu kembali ku selubungi, aku tidak tahu bagaimana awal perkenalan kita dan bagaimana kita bisa sedekat ini. Mungkin, jika aku kembali ke kehidupanku, aku tidak akan bisa seceria dua bulan ini. Aku tidak bisa tertawa lepas dari tangga sampai ruangan tempat kita bekerja sekarang.

Ketika disuruh makan, kita berdua tampak malu dan hanya bisa tersenyum. Apa ada orang lain selain dirimu yang bisa membuatku tersenyum dengan cara yang sederhana? Apa ada orang yang berani menjahili Office Boy dengan kata 'tidur‘. Itu semua lelucon milikmu, sayang.

Ketika berada di dekatmu, semua energi diriku kembali. Kau orang yang menyembuhkanku dari keterpurukan di masa lalu, masa lalu yang tidak akan pernah menjadi teman hidupku lagi.

Terima kasih untuk segalanya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Prakerin ; Part 1

Introduce Myself