Pengalaman Prakerin ; Part 1


Halloha..

I’m back. Ini adalah postingan ketiga di blog ini. Maaf, baru bisa post sekarang. Di post-an ketiga ini, aku ingin berbagi pengalaman prakerin (Praktek kerja Industri). Apa sih itu prakerin? Prakerin adalah kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembelajaran yang dilaksanakan di dunia usaha atau dunia industry yang relevan dengan kompetisi (kemampuan) siswa di bidangnya.

Aku adalah siswa kelas XI Akuntansi yang sekarang resmi menjadi siswa XII. Sebelum naik ke kelas XII, kami melakukan prakerin. Kenapa? Karena ini semua sudah program pemerintah, mau nggak mau semua siswa seluruh Indonesia mengikutinya.

Aku prakerin di salah satu perusahaan milik Astra, bersama salah satu temanku. Awalnya kami berdua mengunjungi perusahaan tersebut tanggal 22 Desember 2017, kami langsung diterima. Ini benar-benar tanggal yang terbaik. Nggak bisa berkata apa-apa lagi selain senang pake banget.
Periode prakerin yang aku jalankan dimulai dari tanggal 4 Juni 2018 sampai 31 Juli 2018. Menurutku, ini adalah periode yang cukup singkat, tetapi membosankan.

Hari pertama prakerin, aku dan anak dari salah satu sekolah dikumpulkan di salah satu ruangan yang berada di lantai dua. Aku dan Meli berkumpul di sini mulai dari jam 07.30 WIB, padahal waktu masuk kantor jam 08.30 WIB, ya kalian tahu sendiri alasannya — tidak mungkin anak baru sudah berani telat.

Berkumpul bersama orang yang belum kenal, pasti ada rasa risih. Belum lagi di sana banyak sekali karyawan kantor yang sedang beroperasi, karena di sana seperti ruang tunggu — ada bagian Claim dan KPB.

Waiting an hour and a half..

Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, sudah mulai panas, bro. Beberapa dari kami sudah mulai bertanya, “kapan kegiatan prakerin segera dilaksanakan?” tiga puluh menit setelah ini, kami diberi selembaran formulir oleh seorang karyawati yang berisi identitas diri, kemampuan, hobbi dan tujuannya apa prakerin di sini. Ya, kira-kira seperti itu isinya.

Tentu, ini bukanlah suatu pertanyaan yang sulit. Aku juga mempunyai tujuan prakerin di sini dan semua itu tidaklah main-main.

Setelah mengisi formulir, kami diantar oleh karyawati itu menuju ruang HRD (Human Resources Departement). Di sini kami mulai dibagi berdasarkan departemen di kantor ini — ada sepuluh departemen. Masing-masing mendapatkan satu, termasuk aku yang kebagian di bagian Claim dengan kak Imelda sebagai pembinaku.

Claim atau Klaim adalah orang yang bertanggung jawab untuk berbagai tugas, termasuk meninjau dan menganalisis klaim biaya, pengolahan klaim baru dan menyelesaikan klaim lama dan bertindak sebagai penghubung antara perusahaan.

Pekerjaanku di sini adalah meng-input data costumer claim; menghitung pembayaran dan tagihan, lalu meng-input-nya; merekap data; masih banyak lainnya. Prakerin nggak hanya belajar, tetapi kita bisa mengenal dunia kantor — bersosialisasi dengan orang-orang sekitar yang lebih luas.

Selama prakerin di sini, aku jadi mempunyai teman baru yang bisa dikatakan cukup dekat denganku, Thesa namanya. Dia anak yang periang dan juga asik. Beruntung kita selantai, di lantai dua, tapi beda departemen — dia di bagian KPB. Mejanya nggak jauh dari meja-ku, hanya beberapa langkah pasti sudah sampai di mejanya.

Awal pertama kenal dia, ya gitu nggak banyak bicara, tapi ketika hampir satu bulan, kami berdua terlihat sangat akrab. Kadang, kalau disuruh mengantar berkas ke departemen lain, kami selalu bersama.

Pernah, aku disuruh mengantar berkas ke lantai enam — lantai yang tidak bisa diakses oleh lift, jadi ya harus ke lantai dasar untuk naik lift ke lantai lima, lalu ke lantai enam naik tangga. Setelah mengantar berkas, kita berdua kembali turun ke lantai lima. Karena kita berdua penasaran lantai paling atas, yaitu lantai delapan. Kami mampir.

Lift terbuka di lantai delapan, kami tidak turun karena di sana berbeda dengan lantai lainnya. Setelah itu, Thesa kembali menekan tombol satu, tiga, lima. Mati. Ketika sampai di lantai lima, pintu lift kembali terbuka, banyak pria berperawakan tinggi masuk ke lift. Si Thesa mundur, padahal tadi mah paling depan, aku yang udah tidak bisa menahan tawa.

Teng..

Lantai tiga, kita berdua turun di lantai tersebut — padahal ingin turun di lantai dasar, eh tapi saking nggak bisa tahan tawa. Jadi pecah. Belum juga pintu lift tertutup, aku udah tertawa kencang disambung oleh Thesa. Turun tangga saja masih tertawa.

Btw, sebenarnya masih banyak pengalamanku yang lainnya. Tapi, untuk kali ini aku hanya bercerita sampai sini dulu. Lain waktu, aku akan melanjutkannya. Terima kasih untuk pembaca setia blog ini. Tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa.

Salam blogger.

-Pelajar Polos / Puzzlenatt.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Prakerin; Part 2

Introduce Myself